Sebuah keluarga sedang merayakan idul fitri dikampung halaman pacitan. 5 orang bersaudara lagi berkumpul melepas kangen dengan Bapak – Ibunya setelah sekian lama merantau. Mereka saling menceritakan kisah sukses di perantauan. Ada yang sukses dengan bisnis rumah makannya, ada yang dengan bangga menceritakan perjananan yang mengantarkan menjadi direktur BUMN terkenal, namun satu diantara mereka berlima tampak menunduk dan enggan bercerita tentang cerita kehidupannya di tanah rantau. Dari bahasa tubuhnya terlihat anak itu tidak nyaman dengan obrolan seputar kesuksesan di perantauan. Mungkin bisa jadi cerita dia di tanah rantau tak semenarik cerita ke-empat saudaranya. Bapaknya pun paham dengan situasi yang terjadi dan kemudian mengajak ibunya ke dapur untuk membikin teh. Bapak itu pun mengambil beberpa cangkir untuk melengkapi satu teko teh yang masih mengepul dan siap diseduh. Uniknya, cangkir yang disajikan terdiri dari beberapa bentuk dan warna yang berbeda. Ada yang dari kaca, ada yang dari keramik, melamin, dan ada juga yang hanya terbuat dari plastik biasa.
“Ayo tehnya diseruput dulu, ini racikan teh terbaik yang sudah bapak siapkan untuk kalian”. Seketika itu pula mereka berlima bergegas memilih (more…)

