“Tidak akan pernah tidak punya apa – apa tanpa pernah punya apa – apa”
Ketika tidak punya apa – apa.
Ketika pulsa tinggal 165 rupiah, pulsa istri pun tak ada 100 rupiah, Kuota internet 0 Mb, uang tinggal enam ribu rupiah. Serasa tidak punya apa – apa. Dan aku tersadar bahwa saat tidak punya apa – apalah harus belajar tetap tenang. Seperti disaat masih SD, “Harap TENANG ada UJIAN”. Ketika tidak punya apa – apa dianggap sebagai (soal) ujian hidup, maka KETENANGAN adalah pengiring terbaik dalam ikhtiar menemukan jawaban (solusi).
Ketika tidak punya apa – apa.
Ketika saat sahur tiba dan tidak ada lagi yang bisa untuk dimasak. Oh iya, masih ada mangga yang sudah masak dan tak perlu dimasak, untuk disajikan sebagai menu sahur. Kadang lewat keterbatasanlah otot syukur benar – benar bangkit. Saat (more…)




Setiap kita memiliki perasaan yang berubah – ubah setiap waktunya. Dan memang diri kita adalah kumpulan pikiran dan perasaan yang campur aduk, yang mana dalam setiap hari kita diwarnai oleh banyak pikiran dan perasaan yang berseliweran dalam diri. Dalam setiap pikiran memuat perasaan yang berbeda – beda, bahkan untuk pikiran yang sama bisa diiringi perasaan yang berbeda ketika waktu kejadiannya (sudut pandang) berbeda. Misal, bisa jadi seorang suami marah – marah ketika mendapati istrinya belum juga bisa memasak, padahal sudah hampir setahun mereka menikah. Namun di lain waktu ternyata sang suami malah bersyukur ketika masih mendapati istrinya belum juga lihai memasak, yang dari situ muncullah ide untuk membentuk komunitas “istri-istri tidak jago masak”, kemudian di monetize dan menghasilkan uang. Kondisi yang sama bisa jadi memunculkan pikiran yang sama namun menghasilkan perasaan yang berbeda, atau lebih tepatnya memunculkan emosi yang berbeda. Dan padahal setiap perasaan memiliki level energi yang berbeda – beda yang mana akan berpengaruh pada energi psikis tubuh. Dan tentunya akan berpengaruh terhadap kualitas nasib seseorang.
