Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya, Dengan Menge-Blog-kannya Rumah Inspirasi Toha Zakaria

February 20, 2008

PRINSIP

Filed under: Inspirasi Pribadi — TOHA @ 5:10 am

Orang yang berbuat jahat/curang, walau bencana belum tiba tetapi rejeki telah menjahuinya
Orang yang bebuat baik, walau rejeki belum tiba tetapi bencana telah menjahuinya

………………….
Sore itu saya pergi ke gramedia untuk beli buku – maklum habis gajian. Dan memang sudah menjadi kegiatan rutin saya, kalau sehabis gajian harus beli buku baru. Sebelum memilih buku yang mau di beli, sayapun buka – buka buku yang kelihatannya menarik. Kebetulan saya menemukan buku motivasi yang di tulis motivator terkenal Indonesia. Saya membuka acak buku tersebut. Dan dan saya menemukan kalimat menarik dari pembuka sebuah bab di buku tersebut. Bunyinya “Orang yang berbuat jahat/curang, walau bencana belum tiba tetapi rejeki telah menjahuinya. Orang yang bebuat baik, walau rejeki belum tiba tetapi bencana telah menjahuinya”. Cukup lama saya merenungi kalimat tersebut. Di tengah perjalanan pulang sambil mengayuh sepeda, saya mencoba memaknai kalimat yang baru saya temukan. Setelah lama berpikir saya sedikit dapat pencerahan. Selama ini, seseorang biasanya melakukan perbuatan tidak baik karena didasari akibat atau ganjaran yang tidak langsung di terima. Artinya, misalkan sesorang mencuri –entah itu mencuri uang, makanan, hingga mencuri sesuatu yang tidak nyata–, dia tidak langsung menerima ganjaran atas perbuatannya. Dia tidak langsung terpotong tangannya. Sehingga selama situasi aman dan tidak ada yang mengetahui, maka perbuatan buruk tersebut akan selalu dilakukan. Padahal ketidak berkahan akan selalu mengintai orang yang telah berbuat jahat. Begitu juga dengan orang yang berbuat baik. Meskipun dia tidak langsung menerima balasan atas perbuatan baiknya, tetapi bencana dan musibah telah menjahuinya. Kenyaman akan selalu menyertai. Sebenarnya prinsip ini sudah secara gamblang di jelaskan lewat hukum timbal balik, atau hukum karma, atau hukum sebab akibat. Apapun yang kita lakukan akan kembali ke kita. Apa yang kita lakukan terhadap orang tua kita sekarang, mencerminkan perlakuan anak kita terhadap kita di usia tua nanti. Apapun kemudahan yang orang lain terima dari kita, merupakan cerminan kemudahan yang akan kita terima nanti. Atau yang lebih luas lagi, apapun yang kita lakukan di dunia ini akan berdampak pada kehidupan kita setelah mati.
Kesimpulan :
Yakinlah, setiap perbuatan baik atau buruk yang kita lakukan, menimbulkan akibat terhadap diri kita di kemudian hari. Yang mungkin tidak kita sadari secara sadar.Bisa jadi perbuatan buruk yang anda lakukan tidak langsung dibalas dengan bencana oleh yang maha kuasa. Tertapi ketahuilah, Yang Maha Kuasa akan mempersulit jalan rejeki anda. Anda akan selalu dibayangi oleh ketidakberkahan. Begitu pula sebaliknya. Bisa jadi perbuatan baik yang anda lakukan tidak langsung dibalas oleh yang di atas dengan rejeki yang melimpah. Tetapi ketahuilah, yang di atas selalu menjaga anda dari bencana.
Salam Penuh Berkah.
Toha Zakaria

January 13, 2008

MENTAL BLOCK “ODOL”

Filed under: Inspirasi Pribadi — TOHA @ 8:22 pm

Kabar baik kan pak! Lewat surat ini saya ingin bertanya dan berbagai cerita sepele. 2 kali saya tahu bapak mebicarakan tentang odol –meskipun hanya sebuah guyonan-. yang pertama lewat buku yang bapak tulis, dan yang kedua saya mendengar langsung dari bapak waktu ketemu di Jakarta. Ada hal menarik yang membuat saya mengakaji ulang pemikiran saya tentang kebiasaan orang terhadap barang yang satu ini (odol). Bapak mengatakan bahwa cara memencet odolpun bisa menjadi penyebeb pertengkaran kecil di sebuah rumah tangga.
Jika odol sudah di pakai 1/3, ketika bapak mau sikat gigi, bapak mencet dari bawah (dari area yang sudah kosong-terus keatas) atau dari atas (di area yang masih penuh)? Jawaban bapak mencerminkan kondisi kehidupan bapak. Inilah kemungkinannya :

1. Jika bapak mencet dari atas (area yang masih penuh) maka kemungkinan mencerminkan :
Kemungkinan pertama : kehidupan bapak penuh dengan kecukupan. Sehingga mencet odol dari arah manapun tidak mempengaruhi keuangan bapak. (mau beli odol berapapun sebulan tak jadi persoalan).
Kemungkinan kedua : bapak kurang rajin sikat gigi. Sehingga mempegaruhi kedisiplinan bapak untuk menghabiskan odol dengan benar – benar habis. (dari bawah terus ke atas, secara konsisten)
Dan biasanya sudah berganti odol ketika odol lama sudah kelihatan habis – tapi belum benar – benar habis.
2. Dan sebaliknya jika bapak mencet dari area bawah (teratur dari bawah, dan terus – terus ke-atas) Maka kemungkinan mencerminkan :
Kemungkinan pertama : kehidupan bapak tidak penuh kelimpahan. Untuk mencukupi kebutuhan pokok (misalkan makan) tergolong sulit. Sehingga mengharuskan perilaku bapak terhadap odol pun harus disiplin. Menghabiskan odol hingga benar – benar habis. Sehingga menuntut pikiran dan tindakan bapak untuk memencet odol dari bawah ke atas secara konsisten ketika hendak sikat gigi. Atau bisa di bilang : jangan sampai ada odol tersisa/terlewat di bagian bawah sedikitpun.
Kemungkinan kedua : Bapak rajin sikat gigi. Sehingga meskipun bapak dalam kelimpahan -misalkan, bapak tetap konsisten untuk disiplin memencet odol yang benar (yaitu dari bawah ke atas).
Dan biasanya belum berganti odol jika odol lama belum benar – benar habis.

Pengalaman di atas saya alami dari sejak kecil. Dan sikap memencet odol dari bawah secara konsisten tersebut bukanlah doktrin langsung dari orang tua saya. Tetapi sebuah doktrin dari situasi dan kondisi kehidupan keluarga saya sejak kecil. Untuk memenuhi kebutuhan pokok –makan- sangat jauh dari kelimpahan. Sudah sebuah kewajaran mama’ saya ngutang tempe, mi, beras atau sayuran kepada tetangga – tetangga keluarga saya. Sehingga untuk urusan kebutuhan odol, yang tentunya pentingnya di bawah kebutuhan makan, tidak bisa terpenuhi secara normal. Akibatnya setiap kali keluarga saya bisa beli odol, timbul sikap otomatis untuk menghabiskan odol dengan benar – benar habis –tanpa sisa- karena untuk menghemat. Yang akhirnya secara tidak sadar terbentuklah kebiasaan untuk memencet odol secara konsisten dari bawah. Dan tentunya itu tidak pernah terjadi di keluarga yang berkecukupan. Tapi ternyata kebiasaan tersebut bisa berubah. Buktinya : salah satu kakak saya yang sudah berkeluarga, telah melanggar kebiasaan lama sejak kecil untuk memencet odol secara konsisten dari bawah. Kebiasaan baru kakak saya setelah berkeluarga memencet odol dari bagian atas (yang masih penuh). Karena memang kehidupan kakak saya sekarang tidak seperti kehidupannya waktu kecil dulu. Sekarang bisa di bilang lebih makmur. Sudah bisa memenuhi kebutuhan sekunder dengan leluasa.
Tetapi untuk diri saya sendiri sampai sekarang masih konsisten. Memencet odol dari bawah. Walaupun kondisi kemakmuran saya sudah tidak sama dengan kondisi keluargaku dulu. Dan ada pertanyaan besar yang ingin saya tanyakan pada bapak sebagai berikut : Apakah cara dan keyakinan saya memencet odol secara konsisten dari bawah, akan menghambat saya untuk sukses?, untuk makmur?. Karena mungkin (karena saya belum menemukan apakah benar pikiran bawah sadar saya seperti ini) ketika saya memencet odol dari bawah secara konsisten, -misalkan- itu sama saja saya mengatakan pada diri saya bahwa saya ini harus menghemat. Saya ini untuk kebutuhan pokok saja susah. Atau sama dengan : saya ini tidak makmur, tidak berkelimpahan. Apa perlu ada yang harus saya rubah?.
Cukup sekian dari saya pak. Mohon maaf jika telah menggangu waktu dan lebih – lebih pikiran bapak yang super sibuk –kali.
JAWABAN :
Pak, Jika anda yakin bahwa mencet odol dari bawah mewakili kondisi yang “sulit” sehingga Bapak harus berhemat dengan cara itu… maka terjadilah seperti yang Bapak yakini. So… hati-hati memilih belief (Sistem keyakinan). Salam

December 18, 2007

TIDAK MISKIN ITU MUDAH

Filed under: Inspirasi Pribadi — TOHA @ 8:35 pm

Banyak Membaca Banyak Tahu
Biasanya Orang Yang Tidak Banyak Membaca adalah Orang Yang Tidak Banyak Tahu
Tidak Banyak Tahu Identik Dengan Kebodohan

Dan Kebodohan Sangat Dekat Dengan Kemiskinan.

Tentu anda familiar dengan kalimat di atas. Kalimat sederhana diatas merupakan salah satu rumus kemiskinan dan solusinya. Dari kalimat pembuka tersebut, terdapat 2 jenis sifat, yaitu : banyak membaca dan tidak banyak membaca. Suka membaca dan malas membaca. Dan dari dua sifat tersebut ada konsekuensi atau akibat yang timbul, yaitu kaya dan miskin. Anda termasuk tipe yang mana? Apakah anda tipe yang suka membaca? Apakah setiap bulan anda menginvestasikan uang anda untuk membeli media bacaan? Atau mungkin anda adalah tipe yang kurang begitu hoby dalam membaca?. Jawaban – jawabn anda adalah gambaran kondisi anda saat ini.

1. Banyak Membaca banyak Tahu.
Kalimat pertama mengajarkan pada kita bahwa untuk banyak tahu, salah satu cara yang efektif dan murah yang bisa di gunakan adalah dengan banyak membaca. Tentu sulit bagi kita untuk megenali dan tahu pemikiran – pemikiran orang lain dengan berinteraksi langsung dengan mereka. Betapa banyak orang – orang yang mempunyai pemikiran bagus, ide cemerlang, tetapi ada jarak puluhan bahkan ribuan kilo yang memisahkan kita. Tentu akan sulit jika tidak ada media perantara. Sebagai contoh : saya memang tidak pernah ketemu –apalagi ngobrol- dengan pak adi gunawan, tetapi lewat buku – buku beliau, lewat website beliau, saya mampu memperoleh pemikiran – permikiran beliau yang sangat bermanfat. Jadi tidak ada alasan lagi jika ingin banyak tahu.

2. Biasanya orang yang tidak banyak membaca adalah orang yang tidak banyak tahu.
Saya pernah membandingkan diri saya sendiri dengan teman kerja tentang kalimat kedua ini. Teman saya pergi kerja pagi dan pulang malam begitulah kesehariannya. Tanpa ada aktifitas membaca sedikitpun. Dengan kata lain dia tidak akan tahu apa yang sedang terjadi di dunia luar, kecuali sekedar buah bibir dari teman kerja. Bisa anda bayangkan betapa banyak sekali aspek kehidupan yang sedang berjalan yang ia tidak ketahui. Tentu akan sangat berbeda dengan orang yang setiap harinya menyempatkan diri untuk membaca buku, buka internet, atau dari hal yang mudah, yaitu menonton tv. Orang yang pertama masuk golongan “orang yang tidak banyak tahu”. Orang yang kedua masuk golongan “orang yang banyak tahu” karena dia memang membiasakan mencari informasi atau hal – hal baru. Sifat tidak banyak membaca berawal dari sifat malas membaca. Sifat malas membaca berawal dari sifat tidak suka membaca. Maka biasakanlah diri anda untuk suka terlebih dahulu.

3. Tidak banyak tahu identik dengan kebodohan
Seseorang di sebut bodoh, jika dia tidak paham atau tidak mengetahui banyak hal. Atau dengan kata lain, hal yang dia ketahui hanya minim, tidak banyak.

4. Dan kebodohan sangat dekat dengan kemiskinan
Tidak ada orang kaya yang bodoh. Dia bisa kaya karena banyak hal yang ia kuasai, yang ia ketahui. Kalaupun ada orang kaya yang bodoh, maka kekayaanya pasti tidak akan bertahan lama. Artinya dia akan miskin lagi. Karena tidak masuk Kriteria orang kaya, yaitu : pintar atau banyak tahu.
Jadi jika anda mengingkan menjadi kaya, maka jadikanlah diri anda, diri yang banyak tahu. Banyak tahu bisa di dapat dengan cara yang sangat mudah. Yaitu banyak membaca.
Salam Berkelimpahan
Toha Zakaria

December 8, 2007

NIKMAT MANAKAH YANG KAMU DUSTAKAN?

Filed under: Inspirasi Pribadi — TOHA @ 9:11 pm

Sebagai manusia yang masih menjalani kehidupan pasti pernah mengeluhkan diri sendiri yang kurang ideal, tidak bisa mencapai target, tidak seperti orang lain atau sebab – sebab yang lain. Dan memang hal demikian adalah wajar. Dan jika anda menginginkan tidak mengeluh sama sekali. Sama saja anda menginginkan petualangan anda di kehidupan ini berakhir. Bahkan orang gila pun yang mungkin kelihatannya enjoy – enjoy saja, tetap punya rasa yang namanya “mengeluh”. Atau mungkin seorang Bil Gates, yang terkenal sebagaia orang terkaya di dunia, pasti punya rasa mengeluh. Akan tetapi jika kita terlalu banyak mengeluh, apalagi jika mengeluh tersebut sering di publikasikan, sering pertontonkan ke orang banyak, maka bersiaplah untuk menerima kondisi, situasi dan potensi yang akan membuat anda terus mengeluh bahkan semakin mengeluh. Yang tentunya akan menjadikan anda semakin yakin terhadap kemampuan anda. Dan terbentuklah keyakinan – keyakinan baru yang negative. Seperti misalkan : “ah, saya memang tidak pantas untuk kaya, Saya memang orang yang bodoh, Saya memang sudah di takdirkan tidak bisa kuliah keluar kota”, dan keyakinan – keyakinan negatif lainnya.

Tapi tahukah anda, bahwa anda sesungguhnya makhluk yang luar biasa. Anda punya perasaan, pikiran yang luar biasa. Pernahkah anda merenungkan bahwa pikiran dan perasaan anda adalah anugrah yang luar biasa yang diberikan oleh Allah pada anda. Pernahkah anda merenungkan, ketika anda baru dilahirkan apakah perasaan dan pikiran anda seperti sekarang ini?. apa jadinya jika perasaan dan pikiran anda mati? atau tidak bisa merespon apapun yang terjadi di luar tubuh anda?. Pernahkah anda memikirkan atau merenungkan, mengapa anda bisa berpikir?. Seberapapun besar masalah yang menimpa anda, seberapapun peliknya persoalan yang anda hadapi, pikiran dan perasaan anda selalu ada untuk anda. Setiap hari ada ratusan lebih kegiatan yang tidak menuntut anda untuk berpikir lagi. Tetapi sudah menjadai sesuatu yang otomatis. Misalkan : setiap bangun pagi anda tidak perlu mengingat ulang siapa diri anda, siapa nama anda, siapa keluarga anda. semua serba otomatis. setiap mau berangkat kerja anda tidak perlu menyadarkan diri anda untuk mandi pagi. Ketika anda selesai buang hajat, anda langsung menyiram hajat yang anda telah keluarkan, dan membersihkan sisa – sisanya yang ada di tubuh anda, anda tidak perlu berpikir lagi “selesai buang hajat, terus ngapain ya?, apa langsung pake celana?, atau langsung nylonong ke dapur, makan?”. Lagi, ketika anda ke kantor naik sepeda atau mengendarai mobil mungkin, pikiran anda tidak di tuntut selalu konsentrasi untuk memikirkan “apa yang harus dilakukan setalah genjotan pertama, genjotan kedua dan seterusnya”. Jadi….. betapa luar biasanya anda. maka banyak – banyaklah bersyukur dengan apa yang anda miliki. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Salam Hangat Penuh Berkah
Toha Zakaria

November 19, 2007

BAGAIMANA JIKA KAYA?, BAGAIMANA JIKA MISKIN?

Filed under: Inspirasi Pribadi — TOHA @ 7:01 am

Kaya dan miskin adalah 2 hal yang paling sering di pikirkan seseorang dalam hidupnya. Bagaimana jika kita miskin?, dan bagaiman jika kita kaya?. Itulah yang sering dipikirkan kebanyakan kita. Sebagaian besar dari kita dalam berpikir selalu diikuti kecemasan dan ketakutan. Misalkan : “bagaimana jika nanti saya kaya, punya harta banyak, apa saya bisa menjaga harta saya? Jangan – jangan nanti saya jatuh miskin”, “Kalo saya jatuh miskin apa jadinya hidup saya?, bagaimana dengan keluarga saya?”. Resiko dari kondisi kaya atau miskin, kita sendirilah yang memaknai. Karena sesungguhnya semua itu adalah permainan hati. Jika kita takut miskin maka katakanlah pada diri kita “sayapun bisa bahagia dengan dengan kondisi apapun, karena kebahagian berawal dari dalam diri (hati), bukan dari luar diri”. Jika memang kondisi kita sugguh sangat menjepit maka sadarilah “tanpa di sadari derita haruslah di syukuri, Karena itu pertanda bahwa kita masih hidup”.

Coba kita bayangkan sebesar apapun masalah atau kesulitan yang menimpa kita, kalau hati kita menerima dengan ikhlas dan menyadari bahwa inilah konsekuensi dari proses bernafas (hidup) kita, maka pastinya kita akan lebih tenang menghadapinya. Ketika kita tenang dalam menjalani setiap kondisi yang sedang kita hadapi, maka di setiap persoalan dalam hidup yang kita hadapi pasti jalan keluar terbuka dengan mudah. Yang bisa jadi, jalan keluar tersebut sulit kita temukan jika kita menyikapi masalah dengan ketakutan, kekawatiran atau bahkan emosi. Jadi sebisa mungkin kita mengejar cita – cita yang berasal di luar kita. Misalkan kekayaan, gelar, dan lain – lain. Jika faktor luar yang merupakan cita – cita kita, tidak bisa tercapai, maka kembalikanlah hasil tersebut ke faktorr dari dalam diri kita. Yaitu Hati kita. Karena setiap faktor luar yang kita hasilkan, hatilah yang memaknainya. Dan hati bisa memaknai setiap kejadian yang kita alami terserah dengan kemauan kita. Mau kita anggap itu sebagai musibah, rahmat, ujian atau yang lain, semua itu terserah kita. Jadi kita sendirilah yang membuat kita merasa susah, sedih atau senang.

Jadi, entah anda nanti jadi kaya atau jadi miskin, itu tidak jadi masalah. Jika kita kaya, kembalikanlah ke hati. Anda tak perlu kuatir ataupun cemas dengan kekayaan anda. Anda tak perlu kuatir jatuh miskin. Jika anda jatuh miskin, kembalikan pula ke hati, ketahuilah bahwa ketika hati kita menerima dengan ikhlas apapun keadaan yang menimpa, maka setiap kondisi yang kita hadapi akan terasa mudah di jalani.

SALAM SUKSES PENUH BERKAH
Toha Zakaria

« Newer Posts

Powered by WordPress