Di awal menikah, Aku yang belum begitu mengenal sosok istri, karena sebelumnya memang tidak saling mengenal, mencoba berusaha menarik perhatiannya dan juga sebagai upaya untuk menumbuhkan cinta. Upaya yang kulakukan seperti mengambil alih tugas mencuci pakaian. Dan ternyata hasil cucianku tak kalah bersih dengan istriku. Juga membantu memasak, tepatnya menggantikannya memasak. Karena memang untuk urusan memasak Aku lebih jago di banding Istriku. Aku berpikir, tak apalah satu dua bulan Aku mencuci, memasak, dan juga sering belanja ke pasar demi menarik perhatiannya, demi untuk menumbuhkan cintanya, nanti setelah dua bulan, baru biar istriku yang mengerjakannya.
Belum genap dua bulan ternyata istriku Hamil. Sebuah karunia besar yang harus dijaga hingga lahiran tiba. Aku berpikir, istriku kan hamil jadi ndak boleh terlalu capek (more…)


Setiap kita memiliki perasaan yang berubah – ubah setiap waktunya. Dan memang diri kita adalah kumpulan pikiran dan perasaan yang campur aduk, yang mana dalam setiap hari kita diwarnai oleh banyak pikiran dan perasaan yang berseliweran dalam diri. Dalam setiap pikiran memuat perasaan yang berbeda – beda, bahkan untuk pikiran yang sama bisa diiringi perasaan yang berbeda ketika waktu kejadiannya (sudut pandang) berbeda. Misal, bisa jadi seorang suami marah – marah ketika mendapati istrinya belum juga bisa memasak, padahal sudah hampir setahun mereka menikah. Namun di lain waktu ternyata sang suami malah bersyukur ketika masih mendapati istrinya belum juga lihai memasak, yang dari situ muncullah ide untuk membentuk komunitas “istri-istri tidak jago masak”, kemudian di monetize dan menghasilkan uang. Kondisi yang sama bisa jadi memunculkan pikiran yang sama namun menghasilkan perasaan yang berbeda, atau lebih tepatnya memunculkan emosi yang berbeda. Dan padahal setiap perasaan memiliki level energi yang berbeda – beda yang mana akan berpengaruh pada energi psikis tubuh. Dan tentunya akan berpengaruh terhadap kualitas nasib seseorang.

