Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya, Dengan Menge-Blog-kannya Rumah Inspirasi Toha Zakaria

March 25, 2009

BERSYUKUR LAGI

Filed under: Inspirasi Pribadi — TOHA @ 2:03 pm

Minggu ini sungguh menjadi minggu keberuntungan saya. Apakah saya baru dapat hadiah mewah? Oh.. bukan. Atau baru dapat undian berhadiah? Juga bukan. Kadang kita menilai keberuntungan hanya dari sisi mendapatkan sesuatu (positif) dan mengesampingkan keberuntungan dari sisi terhindar dari sesuatu (yang negatif). ada tiga kejadian yang rentang waktunya berdekatan yang membuat saya layak di beri label “Si Untung”
Kejadian pertama terjadi sewaktu saya naik bus Agra dari Cikarang menuju Uki. Sore itu saya mau ke harco mangga dua untuk mengambil komputer. Seperti biasa pengamen menemani setiap perjalanan bus kota. Kebetulan penumpang lagi sepi dan saya memillih duduk di belakang. Sambil melepas lelah sepulang dari kantor tanpa terasa saya hampir tertidur. Saya tersadar kembali ketika bus sedang melaju di jalan Tol si pengamen menghampiri saya untuk minta ongkos (ongkos ngamen maksudnya 🙂 ). Pengamen tersebut mendekatkan topi ke samping celana saya. topi tersebut dia pakai untuk menaruh ongkos ngamen. Beberapa detik setelah memberi ongkos tiba – tiba saya tersadar, HP saya di bawa si pengamen. Baru 1 langkah si pengamen melangkah, tangannya langsung saya pegang. Dan benar saja, HP saya ada di genggamannya. Langsung saja HP tesebut saya rebut. Ketahuan usahanya gagal pengamen tersebut hanya cengar – cengir. Penumpang lain tidak ada yang tahu kejadian tersebut. saya pun enggan meneriaki jambret diakarenakan pengamen tersebut tidak sendirian melainkan bersama 2 orang temannya. Pikir saya “ah.. yang penting HP saya aman” Ah…Alhamdulillah saya beruntung.
Kejadian kedua, dua hari setelah kejadian pertama. Siang waktu istirahat saya pergi ke ATM untuk kperluan transfer. Beberapa meter keluar dari ATM tiba – tiba dari arah belakang ada yang memanggil ke arah saya. “pak kartunya masih ketinggalan” saya pun kaget bukan kepalang. Dan setelah saya cek memang benar kartu ATM masih ada di mesin ATM yang masih dalam keadaan On. artinya bisa saja orang tadi menyedot semua uang saya tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Bisa – bisa “puluhan juta” hilang tak berbekas. Ah.. Alhamdulillah saya beruntung lagi.
Kejadian ketiga mirip kejadian pertama namun dalam skala yang lebih kecil. Sewaktu beli bakso yang harganya 5000 , saya memberi ke penjualnya 20 ribuan. Setahu saya yang saya kasihkan ke abangnya adalah uang 5 ribuan sehingga saya langsung cabut tanpa menunggu lagi. Baru beberapa meter melangkah abang bakso yang baik hati memanggil saya dan memberi tahu saya kalau uang kembaliannya belum diambil. Ah.. Alhamdulillah saya memang benar – benar orang yang beruntung.
Seandainya peristiwa yang berlangsung beruntun tersebut berakhir sebaliknya, HP hilang, uang di ATM habis, dan uang 15 ribu hilang, bisa jadi saya akan memberi gelar diri saya sebagai diri yang sial. Tetapi karena yang berlangsung adalah keberuntungan, maka saya berhak memberi gelar sebagai orang yang beruntung.
Apakah kejadian di atas hanya kebetulan? Tidak ada yang kebetulan. Suatu akibat yang spesifik pasti ada sebab yang spesifik pula. Bahkan gugurnya sehelai daun bukanlah proses yang kebetulan. Ketiga kejadian tersebut mengingatkan saya pada artikel yang pernah saya posting yang berjudul “PRINSIP”. Bagi yang belum pernah baca silahkan baca artikel tersebut. mungkin ada hubungan ketiga pengalaman saya diatas dengan artikel tersebut.
Semoga keberuntungan di atas memancing keberuntungan – keberuntungan yang lain. Dan semakin membuat saya yakin bahwa saya adalah Pribadi yang selalu beruntung. Dan pribadi yang pandai bersyukur.
Salam Penuh Berkah
Toha Zakaria

January 7, 2009

MENATA KALIMAT MENGUNTAI MAKNA

Filed under: Inspirasi Pribadi — TOHA @ 6:00 am

16 Oct 2008 @ 09:46pm

Nama : muhammad baikhati (nama Samaran)

Pesan:

“Untuk alumni SMA 1 Pacitan yang bernama Dwi T (nama samaran)/ ku mohon berubahlah menjadi lebih baik, sampai kapan antum (kamu) akan bersikap dzolim terus kepada ane (saya) wahai hamba Allah yang terlihat alim dan sholeh. mohon berubahlah jika hati antum memang belum buta, gelap dan keras. Dari saudara seiman yang senantiasa antum dzolimi sampai saat ini. baikhati UNY.”

Kalimat itulah yang mengejutkan saya sekitar pertengahan November lalu. Kalimat yang memiliki makna yang sangat dalam. Sudah lama saya tidak mengunjungi website Sekolah saya SMA 1 Pacitan yang beralamatkan di www.sman1-pacitan.sch.id. Sekitar pertengahan november saya mengunjungi blog tersebut. Ada 2 hal yang membuat saya kaget. Pertama kabar meninggalnya guru biologi yang dulu juga pernah mengajar saya, yang kedua kalimat yang ada di Shout Box komentar blog tersebut. Mengapa saya merasa kaget dengan komentar tersebut? Saya memang tidak kenal dengan pengirim kalimat tersebut, M. baikhati (samaran). Tetapi saya kenal baik dengan nama yang di tuju kalimat tersebut. Beliau adalah teman seperjuangan waktu masih di SMA khususnya semasa di RISMA (Remaja Islam Masjid). Teman saya ini sekarang baru menyelesaikan kuliahnya di Jogja dan telah menemukan tantangan kehidupan baru di daerah selatan Jogja. Ternyata kalimat tersebut sudah ada hampir 1 bulan, dan tentunya selama waktu tersebut sudah banyak pengunjung website tersebut yang tahu akan kalimat tersebut. Seketika itu juga saya segera menghapus komentar tersebut dari website dengan cara menumpuknya dengan komentar baru. Sorenya saya menelpon Dwi T, teman saya untuk mengklarifikasi berita ini. Ternyata Dwi tidak tahu kalau namanya di catut ke muka umum di website SMA. Beliau juga saya kasih tahu kalau pesan tersebut sudah saya hapus.

Cob kita teliti kalimat tersebut dengan NLP.

“Untuk alumni SMU N 1 Pacitan yang bernama Dwi T (nama samaran)/ ku mohon berubahlah menjadi lebih baik, sampai kapan antum akan bersikap dzolim terus kepada ane wahai hamba Allah yang terlihat alim dan sholeh. mohon berubahlah jika hati antum memang belum buta, gelap dan keras. Dari saudara seiman yang senantiasa antum dzolimi sampai saat ini. baikhati UNY.”

Kalimat tersebut mengandung banyak makna tak terlihat (asumsi) yang kurang baik. Mengapa di sebut makna tak terlihat? Karena keberadaannya sangat samar – samar atau halus. Saking samar – samarnya, makna yang kurang baik tersebut akan masuk ke dalam pikiran bawah sadar pembaca secara tidak sadar. dan bisa jadi akan menciptakan “Belief negatif” baru bagi pembacanya.

1. “ku mohon berubahlah menjadi lebih baik”, mempresuposisikan bahwa Dwi T sulit berubah menjadi lebih baik. (Catatan : presuposisi = asumsi)
Coba kita bandingkan dengan contoh lain, bagaimana rasanya.
“Anakku ku mohon berubahlah menjadi lebih baik”,
“Muridku Ku mohon berubahlah menjadi lebih baik”
Bagaimana rasanya? Sama kan? Sama – sama terasa sulit berubah (menjadi lebih baik).

2. sampai kapan kamu akan bersikap dzolim kepada saya”, mempresuposisikan bahwa Dwi T terus menerus berbuat dzolim sampai waktu yang belum diketahui.
Coba kita bandingkan dengan contoh lain, bagaimana rasanya.
“sampai kapan kamu akan membenci saya”
“sampai Kapan Kamu akan membohongi saya”
Bagaimana rasanya? Saya di 2 contoh di atas, sama – sama sedang di benci/dibohongi secara terus menerus. Atau, kamu di 2 contoh diatas, sama – sama sedang membenci/membohongi secara terus menerus sampai waktu yang belum diketahui.

3. “wahai hamba Allah yang terlihat alim dan sholeh, mempresuposisikan bahwa Dwi T sebenarnya tidak alim dan tidak sholeh.
Kata terlihat mengasumsikan bahwa kealiman dan kesholehan Dwi T yang dimunculkan hanya mewakili dari proses Visual. Dan tidak mencerminkan KeAliman dan keSholehan yang sesungguhnya.

4. “mohon berubahlah jika hati kamu memang belum buta, gelap dan keras sama dengan kalimat pertama mempresuposisikan bahwa Dwi T Sulit berubah menjadi lebih baik. Dan mempresuposisikan bahwa sulit berubah di sebabkan hatinya yang buta, gelap, dan keras.
Memang saya jarang ketemu dengan teman saya Dwi T ini. Jadi saya tidak tahu bagaimana detail kehidupan dia sekarang. Tapi apakah elok mengangkat masalah yang terlihat sangat pribadi ke permukaan umum. Bagaimana jika kalimat itu munculnya di harian Kompas atau Detik.com ? bagaimana jika nama yang di dimaksud diganti dengan Presiden SBY dan dimunculkan di harian kompas atau jawa pos. Mari kita coba sekarang dan coba anda rasakan
Untuk alumni SMU N 1 Pacitan yang bernama Susilo Bambang Yudhoyono (misalkan)/ ku mohon berubahlah menjadi lebih baik, sampai kapan antum (kamu) akan bersikap dzolim terus kepada ane (saya) wahai hamba Allah yang terlihat alim dan sholeh. mohon berubahlah jika hati antum memang belum buta, gelap dan keras. Dari saudara seiman yang senantiasa antum dzolimi sampai saat ini. baikhati UNY. (Harian Kompas …. january 2009)

Di tujukan ke bapak SBY dan di muat di Harian Kompas atau jawa pos, kira – kira apa yang akan terjadi?. Bisa jadi akan menjadi sebuah berita besar, dan si penulis akan di gugat ke pengadilan karena dianggap mencemarkan nama baik.
Kembali ke masalah teman saya tadi.
Seandainya yang mengetahui tulisan tersebut adalah orang yang lagi punya masalah dengan Dwi T, bisa jadi akan semakin menebalkan masalah atau bahkan memunculkan sifat buruk baru lagi.

Seandainya yang mengetahui tulisan tersebut adalah orang yang lagi benci dan dengki dengan Dwi T, bisa jadi kebencian dan kedengkian orang tersebut akan semakin kuat.

Seandainya yang mengetahui tulisan tersebut adalah orang yang tidak punya masalah dengan Dwi T atau orang yang hanya tahu Dwi T tapi tidak mengenal secara personal, tentu akan memunculkan asumsi – asumsi baru yang negatif.

Seandainya Dwi T adalah seorang caleg dan tulisan tersebut di baca oleh rakyat yang mau memilihnya, bisa jadi rakyat akan ragu dengan pilihannya tersebut.

Seandainya Dwi T adalah seorang guru dan tulisan tersebut di baca oleh muridnya yang dia didik sehari – hari, bisa jadi muridnya tidak lagi respek terhadap gurunya tersebut.

Kalimat tersebut sejatinya tidak bisa dijadikan kesimpulan mengenai akhlaq Dwi T. Tetapi efek dari kalimat tersebut bisa menimbulkan kesimpulan yang jelek secara utuh bagi mereka yang tidak memahami secara mendalam. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga: hanya karena sebuah kalimat jelek yang keshahihannya masih perlu di pertanyakan, citra baik seseorang jadi ternodai. Sebagai contoh pernah ada kisah tentang seseorang yang sangat menyukai pecel lele, yang tiba-tiba menjadi sangat anti dengan ikan lele, hanya dikarenakan melihat (satu kejadian) suatu kolam lele yang (maaf) dibangun di bawah jamban umum. Apakah setiap kolam lele di bangun di bawah jamban umum? Apakah orang tersebut sudah detail dalam melihat dan menganalisa kolam lele tadi?. Mungkin bertanya ke pemilik kolam tentang saluran jambannya, apakah lele tersebut untuk di konsumsi atau ada fungsi tertentu (bukan di konsumsi).

Sebagai penutup berikut saya kutipkan sebuah Anonim.
Ketika saya masih muda, dan bebas berimajinasi, saya bermimpi mengubah dunia. Seiring bertambahnya usia dan kebijaksanaan, saya mendapati dunia yang tidak berubah, saya pun menyederhanakan keinginan saya dan memutuskan hanya ingin mengubah negeri saya.

Akan tetapi, tampaknya tak ada yang berubah dengan negeri saya. Usia pun kian senja, usaha terakhir saya adalah berusaha mengubah keluarga, orang – orang terdekat. Akan tetapi, lagi – lagi, mereka tetap sama, tak ada yang berubah.

Dan, sekarang, saat saya terbaring sekarat di ranjang kematian, tiba – tiba saya menyadari : bahwa yang seharusnya pertama kali saya lakukan adalah mengubah diri sendiri. Kemudian memberikan katauladanan, saya mengubah keluarga saya. Dorongan dan inspirasi mereka memungkinkan saya memperbaiki negeri dan siapa tahu, saya mungkin mengubah dunia.

Salama Penuh Berkah
Toha Zakaria

November 26, 2008

KONTEKS KEKINIAN

Filed under: Inspirasi Pribadi — TOHA @ 6:00 pm

Saat inilah yang kita miliki
Karena kemarin bukan lagi milik kita
Dan hari esok belum tentu kita jumpai

Kalimat pembuka sampul sebuah buku yang saya temukan waktu mengunjungi BookFair 2008 di JCC (Jakarta Convention Center) beberapa minggu lalu. kalimat pembuka tersebut memberi banyak makna menyoal kekinian. Kita adalah apa yang kita alami. Dan yang kita alami adalah yang saat ini kita lakukan. Kehidupan di dunia ini adanya di saat ini dan disini. Atau dengan kata lain, masa lalu adalah sejarah yang tak mungkin bisa di ubah, sedangkan masa depan adalah misteri yang kita tidak ketahui sama sekali, dan masa sekarang adalah anugrah. Sehingga peluang kita hanyalah di masa kini dan lebih tepatnya saat ini. Ada ungkapan “apa yang anda lakukan di masa lalu adalah apa yang anda rasakan sekarang, apa yang anda lakukan sekarang adalah cerminan yang akan anda dapatkan di masa depan”. Apakah kita ini termasuk pribadi nlgindur (ngigau)?, Kita berada pada kondisi saat ini tetapi pikiran kita selalu meratapi masa lalu yang telah berlalu? Padahal masa lalu tidak bisa kita putar ulang, masa lalu hanya bisa kita petik hikmahnya sebagai sebuah sejarah kehidupan untuk menatap mas depan. Atau selalu mengkhawatirkan masa depan yang keberadaannya belum pasti? Padahal masa depan adalah apa yang kita lakukan saat ini. Atau, kita sekarang adalah hasill dari 3-5 tahun yang lalu, kita 3-5 tahun yang akan datang adalah apa yang kita lakukan sekarang. Jadi jika yang kita sekarang sama dengan yang kita lakukan pada waktu 3-5 tahun yang lalu, maka apa yang akan kita dapat 3-5 tahun yang akan datang masih sama dengan yang sekarang. Lebih baik kita fokus pada masa kini. Karena di masa kinilah hakekat kehidupan kita. Sudah sering kita dengar dari para motivator indonesia hendaknya kita fokus akan masa kini demi hasil yang maksimal di masa depan. Jika di ibaratkan dengan permainan catur, langkah kita saat ini adalah perencanaan 5-6 langkah kedepan untuk mencapai hasil yang kita inginkan. Dan dalam merencanakan langkah buah catur tentu belajar –bukan menyesali- dari langkah – langkah yang sebelumnya kita jalani.
Saya pernah mendengar dari teman saya kalimat berikut :

“Jika mengingat masa lalu yang ada hanyalah kesedihan ataupun penyesalan Jika mengingat masa depan yang ada hanyalah kekhawatiran”

Sejenak saya larut dengan isi kalimat tersebut. Larut dengan peristiwa masa lalu yang kadang membuat hati sedih, larut mengkhawatirkan masa depan. Tetapi kemudian saya sadar bahwa kesedihan dengan masa lalu, kekahawtiran dengan masa depan adalah sebuah hal wajar yang dialami seorang musafir kehidupan. Tetapi kemudian saya berkata pada bagian diri sendiri “janganlah kesedihanmu terhadap masa lalu membuatmu pesimis menatap masa depan, kekhawatiranmu akan masa depan melupakanmu akan kehidupanmu masa kini, kekhawatiran dan kesedihanmu tak lebih hanyalah bunga kehidupan, dan itulah salah satu pertanda engkau masih deiberi kehidupan”.
Pepatah klasik mengatakan bahwa

“hidup memang bisa dipahami dengan melihat kebelakang, tetapi hanya bisa dijalani dengan melangkah kedepan”.

Memahami kehidupan kita sebelumnya untuk memaksimalkan langkah kita selanjutnya, dari sinilah kita tahu pentingnya sejarah. Dari sejarahlah manusia belajar untuk maju dan berkembang. Contoh negara jepang, mereka cepat bangkit dari keterpurukan dan menjadi negara maju salah satunya mereka cepat tanggap terhadap masa lalu (sejarah). Jika ada ungkapan “pengalaman (sejarah) adalah guru terbaik”, pertanyaannya adalah : sudah kah kita menjadi murid yang baik?. Bagaimanapun warna masa lalu kita tidak berarti apa – apa bagi masa depan kita jika kita tidak menjadikannya teman dalam melangkah di masa kini.
Sebagai penutup saya cuplikan pesan dari bang Andy Noya dalam sebuah artikel yang berjudul “Mengapa Andy Noya keluar dari Metro TV?”

“jangan sekali-kali kita merasa nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar”

Salam Penuh Berkah
Toha Zakaria

November 6, 2008

MENTAL BERKELIMPAHAN

Filed under: Inspirasi Pribadi — Tags: — TOHA @ 6:56 am

Selembar Cek 500.000 US$ entah dari…..

Salam Berkelimpahan
Toha Zakaria

October 19, 2008

Seperti Emas Atau Seperti HP?

Filed under: Inspirasi Pribadi — Tags: — TOHA @ 12:42 pm

Awal Puasa kemarin tanpa sengaja waktu browsing di detik.com saya menemukan artikel tentang produk baru yang berjudul “Ponsel GSM Plus Al-Quran” dengan penasaran saya langsung meluncur ke Link berita tersebut. Produk dengan merek RAZTEL M880 tersebut memang produk keluaran baru. Setelah melihat spesifikasi yang ditampilkan langsung keluar dari mulut saya “Subhanallah” ini dia HP idaman saya. Di situ di paparkan Fasilitasnya yang “wah” menurut saya pribadi, seperti Aplikasi Al-quran 30 Jus yang memungkinkan kita mendengarkan lantunan ayat suci Al-quran dengan Resistensi suara dari syeikh Abdul Rahman Al-Sudais dan Syeikh Saud Ash-Shuraim, disertai juga gambar ayat-ayatnya. Disertai pula tafsir Al Jalalain, Hadis Muslim bahasa Indonesia, doa khatam Al-quran, Video Haji dan Umroh, waktu sholat kota – kota besar di indonesia, dan petunjuk arah kiblat. Diluar fitur islam tersebut, Hp ini mempunyai spesifikasi seperti dual kartu sim satu siaga, layar sentuh 2,6 inch, kamera dan perekam video, memori exsternal 512 Mb, pemutar MP3 dan MP4. Di glodokshop.com HP tersebut dibandrol 1,35 juta.
Sekitar 3 minggu kemudian HP tersebut berhasil dalam genggaman saya. Akhirnya saya memutuskan menggunakan uang THR untuk membeli HP tersebut. Wah akhirnya datang juga…..HP lama merek LG sudah 2 tahun lebih menemani saya berkomunikasi. Warnanya pun sudah lusuh. Dan akhirnya HP yang lama saya jual ke teman saya seharga 200 ribu. Harga awal sewaktu saya beli tahun 2006 adalah 650 Ribu. Wah turun jauh ya. Dari 650 ribu selama 2 tahun nilainya turun jadi 200 ribu. Jauh banget kan. Sudah bukan rahasia lagi kalau harga barang2 elektronik seperti HP misalnya, harganya akan turun ketika barang tersebut sudah di tangan pengguna. Meskipun baru 1 hari tetap barang tersebut masuk kategori barang Second. Berbeda dengan emas dan tanah, dari waktu ke waktu harga 2 barang tersebut cenderung naik. Kalaupun mengalami penurunan hanyalah sebuah trend untuk naik lagi. Artinya dia selalu mampu menjaga nilai dari gerusan inflasi. Dengan sifat yang demikian sering kita membandingkan nilai keuangan kita periode puluhan tahun lalu dengan kondisi sekarang dengan emas sebagai patokan. Misalkan “wah gaji bapak waktu masih muda tahun 70an sekitar 15ribuan sebulan”. Tahukah anda berapa nilai 15ribu di tahun 70an? Apakah sama dengan 15 ribu sekarang? Tentu tidak donk. 15 ribu tahun 70an setara dengan harga emas sekitar 4 gram. Kalo di konversi ke nilai sekarang hampir sekitar 1 juta. Belajar dari emas hendaknya kita selalu mempunyai nilai yang konsisten. Sehingga perubahan zaman seperti apapun tidak menurunkan nilai hidup kita. Krisis global yang melanda negara barat kususnya Amerika, apakah berdampak pada kehidupan anda pribadi?. Saat ini dunia sedang dilanda krisis yang mengkhawatirkan. Banyak perusahaan besar gulung tikar. Nilai saham suatu perusahaan bisa turun drastis dalam hitungan jam. Dan dampaknya tentu juga bagi negara kita indonesia. Jika anda mampu menjaga nilai diri dari waktu ke waktu seperti emas, maka krisis yang sekarang melanda dunia tidak akan berdampak besar bagi anda.
Jadikanlah diri anda seperti emas…, Selalu Terbuka, Selalu Belajar
Salam Berkelimpahan
Toha Zakaria

August 27, 2008

Jangan – Jangan Kita Dementor ?

Filed under: Inspirasi Pribadi — TOHA @ 8:17 am

Anda tahu tokoh dementor di Harry potter? Bagi anda penggemar harry potter tentu tak asing dengan tokoh ini. Saya sendiri bukan pengemar harry potter. Mulai komiknya belum pernah baca apalagi beli (paling baca waktu buka – buka di gramedia), filmnya sangat jarang nonton kalaupun pernah tidak pernah utuh dari awal sampai akhir. Terus kenapa saya yang bukan pengemar harry potter membahasnya?. karena saya bukan pengemar harry potter tentu saya tidak tahu menahu tokoh dementor di film tersebut, seperti yang saya tanyakan di awal tadi. Tetapi akhirnya saya tahu dari sebuah artikel di sebuah millis. Dementor adalah tokoh di harry potter yang punya kemampuan menyedot semangat dan gairah hidup manusia sampai bisa jadi putus asa. Saya juga baru tahu kalau tokoh dementor di cerita fiksi harry potter adalah sosok yang sangat menyeramkan, berkulit kelabu dengan jari – jari kurus seperti kerangka. Dan ternyata sifat dementor juga ada di dunia nyata. Sebenarnya mungkin anda sudah sering menjumpai orang – orang di sekitar anda yang sifatnya sama dengan dementor. Melemahkan semangat yang tadinya meluap – luap, menyurutkan sikap, dan bahkan memicu kesedihan. Dan susahnya lagi dementor di dunia nyata susah di deteksi. Kalo di cerita fiksi dementor berwajah menyeramkan, kalo dementor di dunia nyata mereka tampil seperti orang biasa. Bisa jadi dementor itu yang duduk disamping anda ketika naik angkot, atau teman kerja anda, atau saudara anda, atau bahkan boss anda. Sama dengan yang ada di cerita fiksi, berdekatan dengan dementor akan membuat energi psikis anda habis, tiba – tiba kita jadi putus asa, seakan anda orang yang paling sial di dunia, seakan tuhan tidak adil kepada anda. Yang selanjutnya dalam jangka panjang anda yang sering terinfeksi dementor akan mempunyai sifat iri dan dengki, susah lihat orang lain senang dan senang melihat orang lain susah.

Seringkali kita menjumpai teman kita, saudara kita, atau bahkan diri kita sendiri adalah dementor. Sering mengeluh, merasa tidak beruntung, yang akhirnya ketika bicara dengan orang lain yang bukan dementor cenderung merugikan lawan bicaranya. Misalkan : kita lagi ngomong ke teman kerja kita tenntag bisnis baru yang akan kita jalankan “man, bulan depan aku mau memulai bisnis jual pulsa” sang dementor menjawab : “bisnis pulsa??? Kalo menurutku bisnis pulsa saat ini ga bakalan untung. Kamu liat aja di sepanjang jalan berderet kios pulsa. Mau untung dari mana? Buntung malahan. Lagian ngapain pake bisnis – bisnis segala, kamukan sudah PNS. Ngapain repot –repot bisnis”. Atau mungkin yang ini “eh tau ga bulan puasa ini aku mau jualan baju batik, dan akan saya datangkan langsung dari pekalongan. Mau lebaran kan peminatnya banyak, ya minimal (minim tapi maksimal) teman sekantorlah, itung – itung cari income tambahan” sang dementor beraksi : ”Kamu yang kaya gini mau jualan baju? Emang kamu ada pengalaman marketing? Ngaca donk. kamu mau nyaingin Ramayana? Yang diskonnya lebih gedhe, modalnya lebih besar, produknya lebih bagus, mimpi kalee. inginnya untung malah buntung, mendingan jangan deh bisnis yang gitu – gituan”. Seketika kita yang tadinya semangat untuk memuali bisnis menjadi down, lemes, seakan bisnis yang belum kita mulai sudah mengalami pailit, dan akhirnya berujung pada diri yang merasa bersalah dan tidak mampu.

Seorang dementor biasanya punya citra diri yang rendah. Citra diri adalah bagaimana kita memandang diri kita sendiri. Apakah kita memandang diri kita seorang yang berharga, selalu beruntung, selalu penuh kelimpahan? Atau kita memandang diri kita sebagai pribadi yang selalu sial, tidak beruntung, harga diri rendah? Jika sifat terakhir yang cenderung ada pada diri kita maka kita masuk dalam kriteria dementor. dan cenderung kita menjadi pengeluh dengan keadaan kita. Ketika terjadi perbincangan dengan orang lain, pembicaraan cenderung mengarah ke curhat yang berlebihan. Dan dengan citra diri yang rendah akhirnya setiap lawan yang diajak bicara akan di rasuki citra diri dia yang buruk. Dan dalam jangka panjang seseorang yang terinfeksi dementor akan menjadi dementor pula. Atau dengan kata lain pergaulan menentukan karakter. Jika bergaul dengan orang – orang yang banyak mengeluh maka cenderung kita akan jadi pengeluh pula. Maka ketika kita bertemu dengan dementor hendaknya kita menguasai pembicaraan, atau ketika dementor mulai beraksi , hendaknya pembicaraan segera dialihkan ke topik lain. Jadi telitilah dengan diri anda, apakah anda dementor?

Salam Berkelimpahan

Toha Zakaria

« Newer PostsOlder Posts »

Powered by WordPress